Jumat, 23 November 2012

Warisan Bordir Khas Tasik di Kawalu

Tasikmalaya tumbuh sebagai daerah pengrajin bordir terbesar di Indonesia. Setidaknya ada 1.500 usaha kecil menengah yang menggeluti usaha bordir dengan menampung lebih dari 15.000 tenaga kerja.
Tiap tahunnya miliaran rupiah pun mengalir deras ke Tasikmalaya tanpa bisa dibendung. Bordir tumbuh menjadi benteng ekonomi masyarakat yang terus menguat.

Sebenarnya seni hiasan kain atau bordir sudah muncul sejak zaman Yunani kuno sekitar abad ke-7 sebelum masehi. Pada zaman itu bangsa Yunani sudah mengenal seni dekorasi sulam pada kain. Pada abad ke-3 masehi atau sekitar tahun 330 masehi, di zaman Byzantium seni hias kain sudah mulai berkembang. Hanya saja pada zaman itu bordir merupakan barang mewah yang tidak sembarangan orang memilikinya. Hiasan kain itu biasanya memadukan benang emas sebagai hiasan kainnya.


Tidak hanya berkembang di Eropa Timur, di Asia cerita bordir sudah ada sejak zaman Dinasti Tang (618-907 masehi). Dan mencapai puncaknya pada masa kejayaan Dinasti Cing. Hal itu dibuktikan dengan adanya jubah kerajaan yang terbuat dari sutera dengan hiasan bordir dan terjadi pada tahun 1644 sampai 1912. Saat ini pun Cina menjadi pesaing terbesar pemasaran bordir Tasikmalaya di pasar nasional dan juga Internasional.

Selain Cina, masyarakat India juga sudah menggenal hiasan bordir sejak abad 16 sebagai kerajinan kuno dan sudah dijualbelikan. Pada abad ke 17 hiasan bordir India masuk wilayah Eropa Barat. Motifnya bunga dan tumbuh-tumbuhan. di abad ke-18, Belanda juga mengembangkan seni bordir tersebut seperti halnya Cina dan India.

Perkembangan bordir terus merambah berbagai negara di dunia. Yordania, Turki, Bokhara bahkan Amerika Afrika mengembangkan seni bordir dengan motif bunga-bunga aneka warna. Hingga akhirnya sampai ke Indonesia dan dikembangkan di Tasikmalaya. Kecamatan Kawalu menjadi sentra terbesar bordir di Kota Tasikmalaya disamping Cibeureum. UKM yang bergerak di bidang bordir di Tasikmalaya, kota kabupaten diperkirakan mencapai 1.500 UKM dengan menampung tenaga kerja lebih dari 10.000," kata Ketua Gabungan Pengusaha Bordir Tasikmalaya, H. Asep Ridwan. Sedangkan di Kota Tasikmalaya sesuai dengan data yang ada di Pemkot Tasikmalaya terdapat 1.123 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 10.713 orang.

Untuk memudahkan pemasaran di Ibukota Jakarta, para pengusaha bordir mendapat lokasi di pasar Tanah Abang lantai 5 Blok F. Namun itu bukan satu-satunya pasar bordir. Pasar Tegal Gubug Cirebon, Pasar Turi Surabaya, Pasar Klewer Solo, Pulau Batam, Makassar, Pontianak, Sumatera dan daerah lainnya di Nusantara menjadi pasar besar bordir.

Kebutuhan akan bordir terus mengalir dan belum bisa terpenuhi karena sampai saat ini belum ada satu pun barang yang tersisa," kata Pengusaha Bordir Tasikmalaya, H. Dedi Warso. Rata-rata kemampuan produksi pelaku usaha bordir dalam sebulan sebanyak 250 kodi baju koko atau mukena dan dalam setahun 7000 kodi. Bahkan banyak pengrajin yang kemampuan lebih dari itu Bukan hanya pasar Nasional, namun pasar internasional pun berhasil ditembus. Malaysia, Brunei Darussalam, Saudi Arabiam Singapura, dan Afrika termasuk daerah tujuan ekspor Bordir Tasikmalaya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan berikan komentar di sini.
Saran dan kritik yang membangun sangat saya hargai.