Kamis, 12 September 2013

Pengusaha Muda Kaos Bukhari

pengusaha muda kaos bukhari
Owner Kaos Bukhari Muslim
Bisnis akan semakin nikmat dijalani jika dapat dibarengi ibadah. Perlu sinergi bisnis dan ibadah dakwah, agar aktivitas bernilai dunia-akhirat.

Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup abadi; Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kami akan mati besok. Begitu untaian bijak yang disinyalir diungkap Sayyidina Ali ibn Abu Thalib RA beberapa abad lalu. Intinya: perimbangan mencari urusan dunia (kerja, usaha, bisnis) dan akhirat (kebaikan, pahala).

Namun, tak banyak para pebisnis/pengusaha mampu mensinergikan dua keutamaan ini: bisnis sembari berdakwah. Tapi di Kota Santri, Tasikmalaya Hedi Herdiana melakoninya dengan tekun dan konsisten dengan merintis usaha kaos berslogan tulisan dan gambar bernuansa dakwah. “Dengan kaos, kami ingin mewarnai dan memberi aura positif,” ujar Owner Kaos Bukhari Muslim itu.

Bisnis ini bermula dari pertemuan rutin Pemuda Persatuan Islam, kelompok pelatihan manajemen berbasis religi, yang beranggotakan puluhan orang. Dari pertemuan itu tercetus ide membuat merchandise. Hedi, pemilik Kaos Bukhari, memutuskan mencetak kaos bernada dakwah, dengan modal awal Rp 3 juta.

Awalnya, Bukhari hanya memproduksi 50 kaos. Proses pembuatannya pun masih menumpang di pabrik kaos kenalan Tedi. Karena menuai respons bagus, Hedi mencoba memproduksi lebih banyak lagi. Tidak hanya kaos, ia mulai membuat pin, topi, serta tas kecil tempat mukena dan al-Qur`an. Masing-masing produk bergambar dan bertuliskan pesan-pesan religi, semisal “Senyum Itu Ibadah”, atau “Butuh Bahagia Butuh Islam”.

Saat ini, akui Hedi, perusahaannya mampu memproduksi 5.000 kaos setiap dua bulan, 3.000 sticker, 900 jaket, dan 200 tas per bulan. Untuk kaos anak-anak, Bukhari membanderolnya seharga Rp 60.000 per helai. Kaos lenganpanjang untuk perempuan Rp 100.000, dan lengan pendek untuk laki-laki Rp 90.000. Semua merchandise ini terpajang di gerai Bukhari Muslim di Jalan Buninagara 1, Kota Tasikmalaya.

Menurut Hedi, dalam sebulan, perusahaannya bisa melego 2.000 lembar kaos, aksesori lain seperti sticker 1.000 buah, jaket 300 buah, dan tas 100 buah. Dari penjualan itu, Hedi meraup omzet bulanan Rp 120 juta. Sekitar 20 persen bersih disisihkan sebagai keuntungan pribadi.


Untuk mengembangkan bisnis, perusahaannya menaruh beban harapan kepada agen terpercaya relasi mereka, yang hingga kini terus ditingkatkan.